Selasa, 17 September 2019

"selalu ada cara untuk berdialog dengan pikiran yang terpendam dan menetap"

       Tugas saya hanya menjalankan misi sebagai hamba yang tak berdiam saja saat segala reaksi alam bergejolak untuk memadatkan kepercayaan pada Sang Maha Pencipta. Selalu berdampingan, beriringan secara seimbang.
       Tugas saya hanyalah menjalankan misi yang sudah digariskan. Penuh dengan yang namanya "emosi" dalam sejarah kata manusia.
       Tugas saya hanyalah melaksanakan amanah yang sudah diberikan. Bahu saya sudah dilebarkan, sebagai  suatu pertanda baik bahwa Sang Pencipta tidak pernah main -main dengan kekuatan yang akan dan sudah diberikan.
        Tugas saya hanyalah menyadari, bahwa saya tak pernah ditipu oleh sejuknya embun pagi pada setiap helai daun yang menguning di pekarangan.
       Jamuan istimewa akan selalu dihadirkan pada setiap mereka yang sanggup menantikannya. Kelasnya tak pernah main-main, VVIP...First Class. Semua yang terjerembab pada pikiran masing-masing akan menemukan sebuah kesimpulan, di mana memendam itu lebih baik daripada menyakiti. Menyakiti hanya akan menghasilkan kepuasan batin bagi mereka yang terlalu mementingkan diri sendiri. Sakit memang, tapi durasi jangka panjang dari setiap perasaan yang sedang dijaga itu lebih utama daripada memuaskan batin semata. Efek samping dari kepuasan hanyalah sesaat. Efek samping dari "menjaga" adalah selamanya. Karena hati yang paling terluka adalah milik mereka yang paling bahagia.
       

Sabtu, 14 September 2019

"tidak ada izin bagi setiap kisah untuk menjadi biasa-biasa saja"

Saat saya merasa bahwa hati saya yang paling berdarah, Allah ingatkan saya bahwa ada hati yang lebih banyak meneteskan darah lebih dari saya.
Saat saya merasa bahwa keadaan ekenomi saya yg paling sumpek, Allah ingatkan saya bahwa ada ekonomi orang lain yang lebih sumpek.
Saat saya merasa nasib saya tidak baik baik saja, Allah ingatkan saya bahwa setiap yang lahir sudah membawa nasibnya masing masing secara adil dan rata.
Saat saya merasa "kenapa kok begini ?", Allah ingatkan saya bahwa Allah sayang pada sayatanpa saya pinta sekalipun melalui ucap.

Perjalanan kali ini sungguh luar biasa. Saya tak pernah merasa ibu mengeluh. Saya tak pernah mendengar ibu bersedih. Saya tak pernah mendengar ibu memaki saya karena ketidakmampuan saya.
Waktu semakin berjalan menuju ke depan dan tak ada yang dapat menghentikan. Tapi masih ada sisa sisa tapak kaki masa lalu yang terkadang menghantui, menyakiti, bahkan mengoyak kapan saja saat alarm ingatan itu berbunyi. Tapi ibu memilih untuk diam dan bersandar pada tiang kokoh yang dikelilingi ribuan malaikat suci utusan Allah, Tuhan Semesta Alam. Alhamdulillah Allah menyelipkan senyuman dan wajah berbinar untuk ibu. Sumber utama kekuatan dari segala kekuatan yang pernah ada.

Perjalanan kali ini sungguh luar biasa. Saya selalu mendengar bapak bersedih. Saya selalu mendengar Bapak mengeluh, keluhan yang disuarakan karena rasa sakit yang tak tertahankan. Hati cemas, pikiran ngalor ngidul mencari muara tuk berlabuh. Pelabuhan yang paling utama bagi beliau tetaplah Sang Maha Pemberi Kesembuhan dari segala macam hal. Allah Allah Allah Subhanahuwatangala. Dibalik segala hal yang saya dengar dari bapak, ternyata ada banyak hal yang tak saya dengar dari bapak. Saat dengan randomnya saya bertanya kepada ibu, hal apa yg menjadi nilai plus dari bapak sehingga ibu mau menerima cinta bapak selain segi ganteng dan serba bisanya. Ibu tersenyum kecil sambil berkata "aku suka pengertiannya". Ya..selama satu tahun ini yang saya dengar dari bapak hanyalah ketidakmampuannya untuk menaruh beban dan menyatu dengan takdir yang disampaikan lewat semesta. "Diam" adalah satu kata yang tepat untuk mewakili segala hal tentang bapak. Ooohh... bukan, itu hanya kata yang terlintas dalam pikiran saya saat  merasa kesal dengan diri saya sendiri atas ketidakmampuan saya untuk meredam amarah di depan bapak, dan bapak hanya "diam". Tanpa saya mau tau bahwa dia bekerja puluhan tahun untuk penuhi kebutuhan sandang dan pangan, dia mengukir dengan segenap perasaan dan tenaga yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan papan tuntutan alam raya yang telah memberi berkah, berkah itu sangat sayang tuk dibuang. Dibalik "diam" nya, ribuan ungkapan selalu terselip di sela sela kejadian demi kejadian. Satu ungkapan yang bisa saya bagikan untuk kalian, bahwa isi dari kehidupan hanya ada dua. Perumapamaan opsi A adalah kebahagiaan dan pencapaian. Opsi B adalah kesedihan, kesulitan dan rekasane urip. Simpulannya, jika opsi A kalian pilih duluan maka selanjutnya kalian akan berjumpa dengan opsi B. Sebaliknya, jika opsi B kalian pilih duluan maka opsi A akan menyapa kalian kemudian. Sesederhana itu, tapi manusia yang kalut dan lupa cara bersandar, tak akan bisa menikmati kelezatan di muara pelabuhan suci. Satu titik ketenangan di mana semua akan terasa seimbang. Tak lupa, ada bumbu kemarahan, bumbu kesedihan, bumbu kekilafan, bumbu ketakutan, bumbu kekecewaan, bumbu penyesalan, bumbu hati yang berdebar, bumbu kesalahan, dan bumbu bumbu lainnya yang siap dimasak dengan berbagai cara untuk mendampingi sistem manusiawi anugerah bagi manusia di alam Ibumi. Tidak munafik, bahwa segala hal yang bersifat manusiawi itu umum dan maklum adanya. Tapi jangan ada penghakiman di antara kita. Sebab merasa bahwa diri lebih baik dari insan lainnya, sama dengan merebut job malaikat ruang penghakiman setelah akhir zaman, gek sampean ora entuk gaji tapi malah dijeweri malaikat.